Sandiwara dalam cerita yang tak pernah usai . . . M alam ini aku menatap bintang tanpa ada awan hitam yang menjadi penghalang. Ingin rasanya aku bisa terbang menuju tempat bintang-bintang tinggal. Merebahkan tubuhku di sana, untuk menanggalkan penat dan sesak yang sering kambuh. Mungkin di sana aku bisa menemukan obat yang sejatinya tak pernah ada. Obat untuk hati yang hampir padam karena terlalu lama menyinari bahagia untuk orang tersayang, tanpa ada balasan. Di ujung jalan sepi, di dekat warung kopi. Tempat dimana biasanya aku menunggu seorang gadis, sebut saja dia Tiara. Tiara adalah panggilan akrabnya, dia adalah wanita dengan senyum yang paling menawan, tinggi semampai dengan rambut poninya, sekiranya begitulah dia. Malam ini udara terasa begitu dingin untuk hal yang tak sewajarnya, bahkan sweater kesayanganku tak bisa berbuat apa-apa. Perlahan dingin itu masuk sampai pada celah-celah hati yang remuk. Sudah setengah jam aku berada di temp...