Sandiwara dalam
cerita yang tak pernah usai . . .
Malam ini aku menatap
bintang tanpa ada awan hitam yang menjadi penghalang. Ingin rasanya aku bisa
terbang menuju tempat bintang-bintang tinggal. Merebahkan tubuhku di sana,
untuk menanggalkan penat dan sesak yang sering kambuh. Mungkin di sana aku bisa
menemukan obat yang sejatinya tak pernah ada. Obat untuk hati yang hampir padam
karena terlalu lama menyinari bahagia untuk orang tersayang, tanpa ada balasan.
Di
ujung jalan sepi, di dekat warung kopi. Tempat dimana biasanya aku menunggu
seorang gadis, sebut saja dia Tiara. Tiara adalah panggilan akrabnya, dia
adalah wanita dengan senyum yang paling menawan, tinggi semampai dengan rambut
poninya, sekiranya begitulah dia. Malam ini udara terasa begitu dingin untuk
hal yang tak sewajarnya, bahkan sweater kesayanganku tak bisa berbuat apa-apa.
Perlahan dingin itu masuk sampai pada celah-celah hati yang remuk.
Sudah
setengah jam aku berada di tempat itu, senantiasa menunggunya tiba. Tak terasa
dua batang rokokku telah habis terbawa angin, kurelakan mereka demi melawan
penat yang sengaja datang untuk mengolokku. Akhirnya penantian singkat yang
terasa begitu panjang usai. Tiga pesan berterbangan dari sarangnya lalu hinggap
menuju ponselku, dengan cepat aku membacanya. Tiara mengabarkan bahwa sebentar
lagi ia akan datang. Pesan yang dihiasi emoticon permintaan maaf, karena dia paham telah
menguras waktuku hanya untuk menunggunya. Aku hanya berkata bahwa menunggu kali
ini tak ada apa-apanya, sebab dari awal ceritaku tentangnya adalah perihal
menunggunya. Ah... apa yang baru saja aku katakan, malam cepatlah bawa
kata-kata itu agar tak ada yang mencurinya.
Di
ujung jalan yang sedikit gelap, aku melihat cahaya yang semakin cepat menjamah
bayanganku. Dari balik kaca helm volkadot
berwarna hitam dengan corak merah, aku melihat paras yang begitu anggun,
dihiasi senyuman yang selalu aku rindukan kehadirannya. Tiara datang, lalu
memarkirkan motornya tepat disebelahku, kemudian dengan nada ketusnya, ia
bilang.....
“Alip oh Alip.... dari
dulu kamu nyusahin aku aja, apa-apa ditunggu, apa-apa harus sama aku. Makanya
cepet cari pacar biar ada yang nemenin kamu. HAHAHA.... diiringi tawa jahat
dari bibir manis Tiara, karena telah berhasil mengejekku.
Yah....
sebelumnya namaku Alip, aku orangnya
biasa saja dan terbilang sederhana, untuk wajah hmm.... terbilang
pas-pasan. Oh ya, aku juga memiliki rambut keriting yang menjadi kebanggaan
tersendiri bagiku.
Perkataan
Tiara tak pernah aku ambil hati sebab seperti itulah Tiara yang selama ini aku
kenal. Ia adalah orang yang aku sayang walau dalam diam.
“ Lip ayo cepetan,
acaranya udah hampir mulai!! ”. Suara Tiara mebuyarkan lamunanku.
“ Oke siap buboss “
jawabku.
Tanpa ada basa-basi
lagi, kuhidupkan motor milik Tiara lalu aku pacu menuju acara malam itu
berlansung.
Malam
itu jalanan sangatlah ramai, begitu riuh. Kendaraan banyak berlalu-lalang
disana, saling meneriaki dengan suara bisingnya. Karena ingin diperhatikan,
bahwa mereka yang punya jalan. Walau jalanan sangatlah ramai, aku tetap merasa
begitu sepi, begitu sunyi. Tak ada sepatah kata pun untuk mencairkan suasana
kota kecil itu. Ketika dalam perjalanan, aku hanya fokus melihat arah yang kami
tuju dan Tiara sibuk dengan ponselnya. Berpetualang di dunia maya dan melupakan
dunia yang sebenarnya. Jari-jari kecilnya sibuk membalas pesan dari seseorang
yang akhir-akhir ini selalu berhasil mengundang tawanya tapi entah siapa
namanya, sebab Tiara selalu merahasiakannya. Pada malam itu, untuk pertama kalinya
aku merasa asing berada didekat orang yang paling aku kenal.
Udara
semakin dingin, angin berhembus semakin kencang, sebagai pertanda bahwa hujan
akan datang. Menyadari hal itu, Tiara menyuruhku agar menambah laju motornya.
“ Lip cepetan, keburu
ujan ntar. Aku ga mau ga dateng, aku ga mau dia kecewa sebab ini hari ulang
tahunnya “.
“ sabar Ra, jawabku “.
“ ini udah ngebut kok,
kamu berdoa gih, biar kita sampai sana sebelum hujan “.
“ ayo Lip, cepetan!!”
Tiara
langsung memotong perkataanku tanpa sempat aku selesaikan. Dia juga
mengabaikanku, tapi tak mengapa sebab aku tau bahwa dia sedang cemas. Aku paham
dari nada bicaranya yang terbilang cepat dan entah apa yang dia elu-elukan
sembari berharap hujan tak akan turun malam itu. Rintik-rintik kecil itu pun
terjatuh, satu persatu hingga tak terhitung banyaknya. Rintik kecil itu
terlihat begitu indah bagiku, ketika ia berpapasan dengan cahaya lampu di
pinggir jalan. Ia begitu menawan namun tidak bagi Tiara, baginya rintik-rintik
kecil itu adalah tamu tak diundang yang tak pernah dipersilahkan untuk datang.
Semakin
deras saja hujan mengguyur kota kecil itu, meredam suara-suara bising di
seberang jalan. Ku tepikan motor kami perlahan, untuk sekedar berlindung dan mencari
penghangatan. Ruko di pinggir jalan menjadi pelarian dari derasnya hujan. Ku
tatap wajah Tiara yang terlihat kosong tanpa ekspresi. Seakan-akan hujan telah
mengambil semua cerita pada wajahnya. Mengambilnya dengan paksa, sungguh kejam
hujan malam ini.
“ Ra, kamu kedinginan
ga? Tanyaku untuk memecah suasana. Tiara hanya diam, lalu aku ajukan lagi
pertanyaan yang sama. Kemudian Tiara menatapku dengan wajah yang penuh kecewa,
tatapannya kali ini membuat aku takut. Sebab tatapannya lebih dingin dari suasana
malam ini.
Aku
tawarkan sweater-ku untuknya tapi
Tiara menolak. Aku harus berbuat apa, aku begitu bingung, dan harus memulai
darimana. Jujur, disatu sisi aku bahagia karena bisa menikmati malam bersama
Tiara, namun disisi lainnya aku juga merasa bersalah, karena telah membuat
Tiara terlihat sesedih ini. Aku sadar aku memang bodoh, bahwa tak sepantasnya
aku membuat orang yang kusayang seperti ini. Begitu hinanya aku malam ini,
disudutkan dengan pertanyaan-pertanyaan sendu. Apa salahku, aku hanya ingin membuat
Tiara bahagia.
Tak
henti-hentinya mata Tiara menatap langit hitam tanpa bintang, berharap hujan
cepat berakhir. Entah berapa kali ia mengecek jam tangannya, berharap waktu
berhenti sebentar saja sampai hujan ini reda. Sungguh aku tak pernah tega melihatnya
seperti ini, dengan mudahnya hujan mengaduk-aduk perasaannya. Sabarlah Tiara,
sebentar lagi hujan akan reda. Tak henti-hentinya aku berdoa, agar Tuhan mau
berbaik hati untuk meredakan hujan malam ini. Hanya demi Tiara aku seperti ini,
hanya demi kebahagiannya walau bahagianya bukan bersamaku, setidaknya aku
bahagia melihatmu bahagia.
Cemas
masi saja tinggal pada sela-sela wajah Tiara, seakan cemas menemukan tempat
yang begitu nyaman untuk berlama-lama tinggal. Dengan nada lirih, Tiara mulai
berujar melepas belasan pertanyaan yang ingin dia ajukan.
“ Lip, gimana kalo kita
terobos saja hujannya, kamu maukan “?
“ ntar kamu sakit Ra “.
Pungkasku.
“ tapi Lip, dari tadi
aku ngerasa kalo dia pasti gelisah nungguin aku, gimana ni Lip “?
“ tunggu 15 menit lagi
ya Ra, siapa tau hujannya reda. Ntar kalo hujannya masih kayak gini kita tetap berangkat
“
Janjiku untuk
menenangkan Tiara yang sedari tadi terlihat tak sabaran.
“ iyadah kalo gitu Lip
“ kata Tiara.
Jujur dalam benakku timbul pertanyaan-pertanyaan
yang terasa begitu menusuk.
Siapa orang itu?
Kenapa Tiara bisa
segelisah ini karenanya?
Seperti apakah dia,
lalu bagaimana dengan parasnya?
Untuk
pertamakalinya, aku melihat Tiara mengesampingkan dirinya untuk orang lain.
Sebesar apa kebahagiaan yang orang itu berikan sehingga mampu membuat Tiara
seperti ini. Entahlah, suatu saat pasti aku akan mengetahuinya.
“ Lip, Lip, Lip “
Tiga kali suara itu
menggema di telinga kananku, memecah lamunan yang baru saja aku bangun. Sontak
aku terkejut ketika melihat ke arah suara itu dan aku lebih terkejut lagi
ketika melihat wajah Tiara yang cemberut, karena aku yang tanpa sadar telah
mengabaikannya.
“ iya Ra, ada apa “
tanyaku..
“ liat itu Lip, ujannya
udah reda. Kamu mikirin apa sih, sampai segitunya “ tanya Tiara.
“ hmm.... ga ada Ra “
jawabku singkat.
Padahal sedari tadi,
yang aku pikirkan tentu saja kamu dan kebahagianmu.
Dengan
berat hati, akhirnya aku lanjutkan perjalanan menuju tempat dimana acara itu
berlangsung. Sesampainya di sana.... dari kejauhan terlihat seseorang yang
tanpa hentinya dipandangi oleh Tiara dan dengan mudahnya orang itu mebuat Tiara
tersenyum tanpa ia sadari. Jadi itukah orangnya, orang yang selama ini Tiara
rahasiakan. Pria dengan rambut klimis, berkumis tipis ditambah dengan lesung
pipinya yang terkesan manis. Tiara menarik bajuku.
“ Lip ayo cepetan!!
Kita udah ditunggu tu ” kata Tiara.
“ ia Ra, sebentar dulu
“ jawabku.
Dalam hati aku
berkata.... bukan kita yang ia tunggu, melainkan hanya kamu seoarang Ra. Aku
langkahkan kaki ini walau berat, mengiringi setiap langkah Tiara yang penuh
semangat. Kupaksa bibir ini tersenyum pada posisi terbaiknya hanya untuk
mengaburkan sesak yang terus saja terasa begitu membeludak.
“ hai Ra!! “ sapa
laki-laki itu.
“ hai juga ndra!! “
Tiara membalas prkataan laki-laki itu sambil sesekali bertukar pandangan.
Menjadi percakapan bisu diantara dua orang yang ingin menghiasi malam dengan
tawa lepas mereka.
“ oh ya Lip.... kenalin
ini candra. Ini lo orang yang selalu aku rahasiain dari kamu. Maaf ya aku ga
pernah mau cerita, bukannya ga mau sih tapi sengaja aku rahasiain “ jelas Tiara.
Aku hanya diam saja
sambil sesekali mengerutkan jidat, tanda bahwa aku merasa cemburu.
“ kenalin, aku Candra “
“ aku Alip “ jawabku
datar, dengan senyum ramah yang terlihat sungkan.
Kami
bertukar pertanyaan-pertanyaan biasa, berlagak seakrab yang kami bisa agar
Tiara tak merasa kecewa. Setelah percakapan singkat itu, suasana mulai berubah.
Tiara yang sedari tadi memandangi Candra mulai mengabarkan bahwa dia bahagia
berada didekat Candra. Dalam diam aku tersadar, bahwa sampai sinilah aku. Aku
tak bisa lagi menemani langkah Tiara, sebab langkahnya kali ini telah seirama
dengan langkah Candra. Tak seminor langkahku dengan langkah Tiara, saatnya aku
undur diri. Melangkah mundur begitu pelan dengan perasaan yang meringis
kesakitan. Saatnya aku menjaga jarak sebab tak ada lagi tempat untukku
berpijak, semua tempat telah dilahap jejak-jejak kebahagiaan mereka.
Aku hiraukan orang-orang yang tengah asyik
terbuai menikmati acara malam itu. Aku tak peduli akan hidangan yang sedari
tadi menanti untuk dicicipi. Di sana aku hanya melihat orang-orang dengan dunia
yang mereka ciptakan sendiri. Ada yang sibuk bertukar rayuan mesra bersama
pasangan mereka, ada yang asyik bercerita bersama teman-teman mereka, sisanya
sibuk berbagi tawa lewat foto selfie
mereka.
Aku
kini sendiri, begitu asing dan terabaikan. Kulihat Tiara yang asyik
mendengarkan cerita dari Candra, entah itu cerita apa, yang sesaat membuat
Tiara lupa akan semesta. Hanya Candra, Candra, dan lagi-lagi Candra yang
menyesaki udara di sana. Tak ada yang salah dengan malam ini, aku saja yang
terlalu takut mengungkapkan rasa yang tercipta. Aku selalu bersandiwara dan
berpura-pura terlihat tegar, seakan tak ada masalah yang terlalu besar untuk
dikhawatirkan. Inilah sakitnya mencinta dalam diam, tanpa suara namun sakitnya
begitu menggeliat dan membekas hebat.
Pada
malam itu
untuk
pertamakalinya
aku
merasa asing
berada
di dekat orang
yang
paling aku
kenal
. . .
abed ilyas
Perasaan
yang gersang di musim penghujan . . .
Pagi itu hujan
mengguyur kota Cakra, mengusir fajar dengan awan pekatnya. Tak terdengar
suara-suara burung di sudut kota. Tak terdengar hingar-bingar dalam setiap
rumah warga. Sepi, sunyi, tatkala hujan terus saja bernyanyi, menidurkan cerah
pada pagi hari ini. Seperti biasanya, aku masih terlelap, sibuk meraba mimpi
yang tak pernah bisa kudekap.
“ Nak bangunlah!!
“.
Entah berapa
kali suaru itu terucap, berbisik di antara sadar dan lelapku, namun tetap saja
mata ini meminta untuk terpejam. Suara lembut nan merdu itu diucapkan oleh
Ibuku tersayang. Dengan sabarnya Ia menungguku untuk terbangun.
“ Nak,,, sudahi
mimpimu dan jalani harimu dengan penuh keberanian, tentu saja untuk melangkah
menuju mimpi yang selalu kau ceritakan “.
“ Lip.....
Lip...... Lip..... ayo bangun Nak!! “.
Sesekali Ia merapikan
barang-barang yang berserakan di kamarku. Aku terbangun entah pada kalimatnya
yang ke berapa. Membuka mata yang terasa begitu berat, seperti ada beban yang
memaksanya untuk tetap terlelap. Seperti biasanya, aku disapa oleh senyuman
indah yang paling aku ingat dan yang selalu melekat erat. Karena dulu, ketika
pertamakali aku membuka mata untuk menatap dunia ini, senyum itulah yang paling
pertama menyapaku lalu menunjukkanku sebagian dari dunia ini. Dengan nada yang
agak berat aku bertanya.
“ Bu,,,,, jam
berapa sekarang “?
“ Kenapa terasa
lebih cepat dari biasanya “?
Dengan penuh
kasih sayang, Ibuku berkata.
“ Maaf Nak, ibu
sengaja membangunkanmu lebih awal dari biasanya, sebab ibu tak ingin melihat
anak laki-laki kesayangan ibu tergesa-gesa seperti biasanya “.
“ Ayo semangat!!.
Jangan bermalas-malasan, mandi lalu bersiap-siaplah dan selepas itu antar
adik-adikmu berangkat sekolah ”.
Aku anggukkan
sebagai jawaban bahwa aku mengiyakan.
Pagi itu setelah aku menyudahi
sarapanku, aku melihat sepasang bidadari kecil yang sedari tadi menunggu di
samping motorku.
“ Kak,,, ayo
cepetan, sebentar lagi jam pertama akan dimulai “ Teriak Bulan.
“ Iya kak,
cepetan dong “ sahut Bintang.
“ Iya-iya, kakak
pakai jas hujan dulu “ pungkasku sebagai penenang ditengah kecemasan mereka.
Mata mereka
terus saja mengawasiku, sebab sudah tak ada waktu lagi untuk berlama-lama.
Mereka adalah adik kembarku, Bulan
dan Bintang namanya. Mereka adalah salah satu anugrah yang Tuhan berikan,
sebagai hadiah kecil untuk menyempurnakan kebahagiaan bagi keluarga kami.
Bintang terlahir setelah Bulan menyapa dunia dengan teriakannya. Mereka adalah
Bulan dan Bintang yang selalu bersinar tak peduli siang ataupun malam.
Sesampainya di depan gerbang SD
35, aku teringat bila dulu aku juga pernah berada disana, tumbuh besar disana.
Aku sedikit teringat akan masa-masa kecilku dulu, masa-masa ketika tangis dan
tawa hanyalah perihal sederhana. Bukan yang sekarang ketika tangis dan tawa
yang hadir bersamaan dengan luka, perihal cinta.
Bulan dan Bintang membuyarkan
ingatan yang sempat aku hidupkan, dengan tergesa-gesa mereka berpamitan kepadaku.
Tak lupa mereka melempar senyum kecil kepadaku, senyum yang begitu hangat untuk
menemaniku di pagi yang terasa sangat dingin. Tak begitu lama aku lanjutkan
perjalanan menuju arah barat, diiringi hujan yang semakin lebat. Di tengah
perjalanan terlihat lampu merah yang hadir tanpa ada kata permisi, memaksaku
berhenti sampai warnanya berganti. Kutepikan motorku tepat di bawah pohon pinus
yang menjulang begitu tinggi, menusuk langit pucat pagi itu. Hujan pagi ini
mengingatkanku akan peristiwa semalam, memaksaku menumbuhkan ingatan yang tak
pernah ingin kukenang.
Perihal Candra dan Tiara. Hujan
pagi ini berperan besar ditengah aksi mereka. Memutar kembali peristiwa yang
sama persis dengan peristiwa semalam. Hujan menceritakan kebahagiaan mereka
tepat didepan mataku. Entah berapa kali mereka berkeliling tanpa henti, tanpa
lelah dipikiranku. Tiba-tiba saja hati ini berkecamuk begitu hebat, terasa
panas dan begitu menyesakkan. Hujan kali ini tak terasa dingin lagi, bagiku
hujan kali ini terasa begitu mendidih. Menyulut tubuhku hingga ketempat dimana
hatiku kecilku tinggal, begitu perih dan sakit sehingga aku benci hujan pagi
ini.
Rasa sakit ini membuatku
menciptakan musimku sendiri. Sejatinya hujan ialah hal yang erat dengan dingin,
namun bagiku hujan kali ini begitu berbeda sebab ada perasaan yang terluka pada
setiap tetesnya. Perihal perasaan yang gersang di musim penghujan.
“
Tiiit....tiiit....tiiiiiit....” dengan spontan suara klakson itu mengejutkanku,
suara itu berasal dari mobil putih yang tepat berada di belakangku. Aku benci
hal itu, tapi aku harus tetap melanjutkan perjalananku. Aku harus pergi walau
sesaat aku telah menemukan tempat yang begitu nyaman. Aku merasa lebih nyaman
berada di bawah pinus itu daripada harus berada di tempat yang sama dengan
Tiara, sebab luka kali ini terlalu besar untuk aku sembunyikan darinya.
Setibanya
aku di seberang jalan, tepat di depan sekolahku. Aku hanya menatap kosong, aku
merasa begitu bimbang untuk menentukan pilihan, mencari titik tengah ketika
hati dan fikiran terguncang. Fikiran berkata untuk tetap menjalani aktifitas
sebagaimana pada hari-hari biasanya, anggap saja tak ada masalah yang begitu
besar. Dalam diam hati menolak begitu keras, ia berkata agar aku membawanya
pergi jauh dari masalah yang tengah menanti di dalam sana. Aku harus pergi
sebab ia terus saja mengeluh perihal sakit yang tak mampu ia pendam.
Setelah perdebatan panjamg
akhirnya aku mencari pelarian. Jujur, Aku merasa bersalah dengan pilihanku kali
ini sebab secara tidak langsung, aku membohongi ibuku dan meskipun demikian
tetap saja hal ini menjadi beban bagiku namun beban yang aku pendam jauh lebih
besar dari itu. Aku tenggelam dalam luka yang begitu dalam. Kujalankan motorku
tanpa arah dan tujuan, kubiarkan angin membawaku kemanapun ia mau sebab orang
yang menjadi tujuanku saat ini telah sampai pada tempat yang ia inginkan.
Tak terasa waktu telah banyak yang
kubuang percuma, kupertaruhkan demi sesak yang ingin aku buang. Aku menempuh
jalan yang lebih jauh dari biasanya, pada tempat yang bahkan aku tak sempat
menanyakan namanya, segalanya terasa sangat cepat dan singkat. Aku duduk di
tepi pantai, berhadapan langsung dengannya. Kumatikan ponselku sebab aku
benar-benar ingin sendiri, cukup sakit yang ada di sini. Aku hanya ingin
sendiri, aku tak ingin ada orang yang terlalu percaya bisa menasehati.
Kuteriakkan pada
laut itu.
“ Lebih luas
mana dirimu dibanding luka yang aku rasakan saat ini “?
“ Lebih dalam
mana dirimu daripada lubang yang tercipta pada hati ini “?
“ Lebih ganas
mana ombakmu atau rasa sendu yang menggebu ini “?
Terus saja aku
berteriak mengeluarkan penat yang begitu sesak. Kenapa kau diam, jawab aku kali
ini saja.
Inilah sakitnya memendam hal yang
seharusnya diucapkan, aku marah sejadi-jadinya pada diriku sendiri. Mengapa
harus Tiara, mengapa bukan orang lain saja yang Aku cinta. Pertanyaan itu saja
yang aku ajukan pada diriku sendiri, tanpa pernah Aku bisa menjawabnya.
Bukankah banyak wanita di luar sana yang jauh lebih menarik daripada Tiara,
tapi mengapa hanya Tiara, Tiara, dan Tiara. Aku begitu lelah, hilang tanpa
arah. Ombak dekap aku sebentar, lalu rasakanlah luka yang selama ini aku
sembunyikan.
Dalam tangisku. Aku mencoba untuk
tertawa tapi tak pernah bisa walau segala usaha aku paksakan. Sesaat aku lupa
caranya untuk tertawa, begitu berat wajah ini membohongi pemiliknya namun entah
dengan sihir apa sehingga aku begitu pandai berbohong di depan Tiara, saat aku
dengan mudahnya tertawa tanpa pernah peduli sakit yang terus saja mendera.
Sesaat suasana begitu senyap, sesaat semuanya terdiam, mungkin saat itu juga
waktu terhenti. Lalu untuk pertama kalinya, aku menangisi orang yang tengah
bahagia. Bahkan air mataku terjatuh lebih deras dari hujan tadi pagi.
Air ketenangan yang hadir tanpa diiyakan
menguap begitu pelan
bersiap terjatuh diantar kedipan
terjatuh dengan deras meninggalkan
sedikit bekas
menyeka napas yang sesekali tersendat
begitu lelah seseorang memendam
masalahnya
sehingga
ia ceritakan melalui air mata
yang ia tumpahkan bersama sakit yang ia
rasa . . .
abed ilyas
Menghapus kenangan hitam . . .
Ketika segala hal
terasa begitu berat, untuk menyudahi angan yang tak pernah bisa aku genggam
erat. Aku percaya bila hidup memiliki rotasinya sendiri. Layaknya jarum jam
yang berputar pada lingkaran tragedi, kadang di atas, kadang di bawah. Suatu
saat nanti akan tiba masanya, ketika beban yang aku pikul tak akan terpengaruh
oleh gravitasi. Begitu ringan, seperti debu yang mudah datang dan hilang ketika
diterpa angin.
Hari ini adalah hari yang cerah,
menyilaukan setiap mata yang tengah asyik memandang semesta. 23 agustus 2015,
tak terasa setahun telah kulalui. Merangkak lalu menjauhi hari demi hari dari
peristiwa kelam itu. Hari yang pernah aku tulis di atas catatan hitam, tentang
cerita cintaku.
Aku belajar dari rasa sakit yang
pernah tinggal, rasa sakit yang betah berlama-lama dalam tubuhku. Aku belajar
menyatukan keping-keping hati yang terhempas oleh masa lalu. Walau berat aku
tetap melangkah, sebab aku percaya bahwa akan ada seseorang di luar sana.
Seseorang yang akan menanti hadirku untuk menghabiskan senja bersama. Entah
siapa orang itu, untuk saat ini memang aku belum menemukannya, masih menjadi
rahasia. Entah pada hari keberapa seseorang itu akan datang, yang pasti akan
aku cari seiring bergantinya hariku.
Aku tak pernah tau sejauh mana aku
akan melangkah. Aku harus tetap melangkah menuju bahagia yang menantiku. Aku
sadar bahwa di dunia ini bukan hanya tentang Tiara, bukan hanya tentang
perasaanku padanya. Di dunia ini bukan hanya tentang perasaan yang terluka
karena cinta. Masih banyak kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang berada di depan
sana, yang setia menunggu untuk aku sapa. Tiara biarlah berlalu, kujadikan dia
cerita hitam putih dalam bagian hidupku. Walau sakit, tak aku paksakan lagi
perasaan ini, kubiarkan dia mengejar bahagianya. Pada dasarnya setiap orang di
dunia ini ingin bahagia, dengan cara yang mereka pilih masing-masing. Kukenang
Tiara sebagai pelajaran, kujadikan ia petunjuk jalan menuju masa depan, bukan
tanpa alasan sebab dulu Tiara adalah bahagia yang aku prioritaskan.
Dibalik luka yang Tiara tinggalkan,
aku ingat satu hal, kejadiannya sama persis di tempat aku berdiri saat ini.
Bahagia yang tetap bercahaya walau agak redup, menjadi pembeda dalam tumpukan
luka yang hanya tinggal kata.
Hari itu, tepat setelah senja
berpamitan kepada dunia, dalam cahaya jingganya ia kabarkan bila bintang akan
menggantikan indahnya. Sesaat senja telah berlalu, dengan sigap malam mengambil
peran untuk melahirkan sinar bintang dan rembulan. Aku ingat dengan jelas hari
itu, ketika aku dan Tiara duduk begitu dekat bahkan anginpun tak kuasa menembus
celah yang begitu rapat. Malam itu hanya ada aku dan Tiara, sebab kami tak
perdulikan orang-orang yang berada di sana. Dengan sendirinya kami meramu canda
tawa hanya dengan hal-hal yang sedikit gila. Bertatap muka untuk mencipta
bahagia.
Malam itu, kami berbagi sisi cangkir
yang sama, merasakan pahit manis antara perpaduan kopi dan gula. Berbagi
kehangatan dalam setiap seruputnya, sesekali mata kami terpejam karena pahitnya
namun tak mengapa, sebab ada sedikit manis yang menjadi penawarnya. Malam
melangkah semakin jauh, diiringi cahaya bulan juga bintang yang semakin terang.
Kuperhatikan pelan, setiap bagian yang mencipta Tiara, inci demi inci. Aku
tenggelam begitu dalam, ketika aku jatuh diantara sorot matanya. Kali ini Tiara
sibuk menatap bintang, begitu juga dengan aku yang sibuk menatap Tiara. Lalu
untuk apa aku menatap langit luas di atas sana, jika sekarang bagian dari
duniaku ada dihadapanku.
Tiba-tiba Tiara mengarahkan tangannya
menuju langit luas di atas sana, kemudian ia tunjuk satu bintang yang bersinar
paling terang. Tanpa kata, ia menatapku lembut, seolah-olah tatapannya
memintaku ikut dalam permainannya itu. Lalu aku juga menunjuk satu diantara
milyaran bintang, tentu saja aku juga menunjuk bintang yang sama seperti yang
Tiara tunjuk. Mata kami terpejam, jauh menerawang menuju bintang-bintang. Kami
menggantungkan mimpi dan cita-cita, berharap suatu saat Tuhan akan
mewujudkannya. Entah apa yang Tiara harapkan ketika mata itu mulai ia pejamkan.
Dari sekian yang aku harapkan, aku hanya
berharap Agar Tiara bisa menua bersamaku, hanya denganku.
Aku masih ingat kebahagiaan malam itu,
masih terlukis dengan jelas dalam benakku. Kebahagiaan yang dulu sering aku
rasakan, ketika aku dan Tiara beradu akting dalam skenario yang telah Tuhan
kisahkan. Cerita malam itu terlalu indah untuk aku kenang, sehingga aku ingin
berlama-lama tinggal dalam setiap detiknya. Ingin coba aku dekap meski
terbilang percuma. Sudahlah, itu hanyalah sedikit cerita yang tak akan pernah
terulang, itu hanya bayangan yang dibawa angin untuk menggoda ingatanku. Angin
dengan sengaja memaksaku untuk mengingat cerita yang ingin aku lupakan.
Aku sadar bahwa cinta tak selamanya
harus memiliki, sebab terkadang cinta hadir untuk menegaskan bahwa dirinya ada,
entah dengan akhir yang bahagia atau mungkin ia hanya datang untuk berbagi
luka. Tak ada yang benar-benar tau, apa itu cinta. Cinta adalah hal aneh dengan
segala misteri yang ada di dalamnya. Bagiku, mendoakan kebahagiaan untuk orang
yang aku kasihi, dengan sepenuh hati. Seperti halnya Tiara, walau bukan aku
yang menjadi alasannya jatuh cinta, setidaknya ia bahagia dengan orang yang
saat ini ia percaya. Seperti itulah cinta yang aku alami dan cinta yang aku
ciptakan sendiri.
Percayalah bahwa hidup memiliki
rotasinya sendiri
suatu saat nanti akan tiba masanya
ketika bebanmu tak terpengaruh oleh
gravitasi
terasa begitu ringan
bagai debu yang diterbangkan
angin . . .
abed ilyas
Mantep, terharu.
BalasHapusMakasi bro
BalasHapusUuhh keren2
BalasHapusAkamsi yo
Hapusteruslah berkarya kawan :)
BalasHapus